Isu perbudakan sering disalahpahami dalam konteks Islam. Sebagian orang menilai Islam “membiarkan” perbudakan, padahal jika ditelaah secara historis dan normatif, Islam justru mengambil langkah progresif dan sistematis untuk menghapus perbudakan secara bertahap. Dalam masyarakat Arab pra-Islam, perbudakan adalah sistem sosial-ekonomi yang mengakar kuat. Islam hadir bukan dalam ruang kosong, melainkan di tengah realitas tersebut.
Perbudakan sebagai Realitas Sosial Awal
Pada abad ke-7, perbudakan adalah praktik universal—di Arab, Romawi, Persia, dan wilayah lain. Islam tidak menciptakan sistem perbudakan, tetapi mereformasi sistem yang sudah ada dengan membatasi, mengatur, dan secara moral mengarahkannya menuju penghapusan.
Pembebasan Budak sebagai Nilai Moral
Al-Qur’an secara konsisten mendorong pembebasan budak (itq ar-raqabah) sebagai:
- Amal utama
- Bentuk penebusan dosa
- Tindakan kebajikan tertinggi
Pembebasan budak dikaitkan dengan:
- Kaffarah (penebusan kesalahan)
- Zakat dan sedekah
- Kesalehan sosial
Hal ini menunjukkan bahwa Islam memindahkan status budak dari “barang” menjadi “manusia bermartabat”.
Integrasi Sosial Mantan Budak
Islam juga membuka jalan bagi mantan budak untuk:
- Mendapat hak sosial penuh
- Menjadi pemimpin dan ulama
- Menikah bebas tanpa stigma
Sejarah mencatat banyak mantan budak yang menjadi tokoh penting dalam peradaban Islam.
Pendekatan Bertahap sebagai Strategi Sosial
Alih-alih penghapusan mendadak yang berpotensi menimbulkan kekacauan sosial, Islam menempuh strategi moral bertahap:
- Menghentikan sumber perbudakan baru
- Mendorong pembebasan massal
- Mengikis legitimasi moral perbudakan
Pendekatan ini terbukti efektif dalam jangka panjang.
Relevansi Modern
Dalam konteks modern, prinsip Islam menuntut:
- Penolakan total terhadap perdagangan manusia
- Perlindungan pekerja migran
- Perlawanan terhadap eksploitasi ekonomi
Abolisionisme Islam bukan slogan, melainkan etika pembebasan yang berkelanjutan
Abolisionisme dalam Perspektif Kristen: Iman sebagai Kekuatan Moral Pembebasan
Dalam sejarah Barat modern, Kekristenan memainkan peran sentral dalam lahirnya gerakan abolisionis. Meski Alkitab hidup dalam konteks masyarakat yang mengenal perbudakan, ajaran inti Kekristenan tentang kasih, martabat manusia, dan kesetaraan di hadapan Tuhan menjadi bahan bakar moral utama penghapusan perbudakan.
Ketegangan Awal dalam Teks dan Praktik
Secara historis, sebagian gereja pernah:
- Membenarkan perbudakan
- Menafsirkan teks secara literal dan sempit
Namun, perkembangan teologi Kristen menekankan bahwa:
Semua manusia diciptakan setara dalam citra Tuhan.
Interpretasi inilah yang kemudian menggerakkan perlawanan internal dalam Kekristenan sendiri.
Gerakan Abolisionis Berbasis Gereja
Kelompok Quaker adalah pionir dalam menentang perbudakan secara terbuka. Mereka menolak perbudakan sebagai dosa sosial. Gereja, mimbar, dan komunitas iman menjadi:
- Pusat penyadaran publik
- Sarana pendidikan moral
- Basis gerakan politik abolisionis
Tokoh seperti William Wilberforce menjadikan iman Kristen sebagai landasan perjuangan politiknya.
Abolisionisme dan Kasih Kristiani
Nilai utama yang mendorong abolisionisme Kristen:
- Kasih terhadap sesama
- Penolakan terhadap kekerasan struktural
- Pembelaan terhadap yang tertindas
Perbudakan dipandang bertentangan langsung dengan ajaran Yesus tentang kasih dan keadilan.
Warisan Modern
Kekristenan modern banyak terlibat dalam:
- Gerakan HAM
- Anti perdagangan manusia
- Perlindungan korban eksploitasi
Abolisionisme Kristen menegaskan bahwa iman sejati harus berpihak pada kebebasan manusia.